LITERASI MEDIA GURU (MEDIA LITERACY FOR TEACHER)

Salah satu contoh media pembelajaran dari desain aplikasi di Smartphone

Tahukah Bapak/Ibu Guru yang budiman, bahwa para pakar memprediksi akan ada 85 profesi baru yang dibutuhkan pada tahun 2030, yang semuanya berkaitan erat dengan teknologi internet? Agar mudah memahaminya, mari kita ambil beberapa contoh platform bisnis online yang sedang familiar di kehidupan kita:  Gojek; Shopee; dan Ruang Guru. Jika kita tilik kembali, tidak butuh waktu lama ketiga aplikasi online ini membuat Kita tergantung dengan kemudahan yang dibawanya.

Lebih lanjut, dalam platform bisnis popular tersebut, tahukah Bapak dan Ibu berbagai profesi baru yang bergelut di dalamnya? Ada si pembuat aplikasi, content creator , copy writer, data analyst, video editor, dan lain-lain. Dari kelima profesi ini, apakah Kita  memahami  semua  job description nya? Cobalah pula tanya pada anak-anak Kita, apakah cita-cita mereka pada saat ini? Betul sekali, jawabannya pasti menjadi YouTuber!

Bapak /Ibu guru yang budiman, mau tidak mau Kita harus menyadari bahwa jaman telah berubah, kebutuhan bangsa ini akan profesi juga telah berubah. Oleh karena itu para guru harus literat. Menurut Unesco kemampuan literasi yang harus dikuasai oleh guru adalah literasi media, literasi informasi, dan literasi digital. Literasi media didefinisikan sebagai:

 

An informed, critical understanding of the mass media. It involves examining the techniques, technologies and institutions involved in media production; being able to critically analyze media messages; and recognizing the role audiences play in making meaning from those messages (Potter, 2013)

Dari defenisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa literasi media adalah keadaan dimana seseorang telah terinformasi. Memahami secara kritis terhadap semua konten yang dikandung media massa. Termasuk mampu menguji cara-cara teknis (bereksperimen dengan berbagai teknologi digital), menguasai dan memiliki teknologi dan lembaga yang memproduksi konten media, mampu menganalisis secara kritis pesan media, dan mampu mengenali peran masyarakat (sebagai audiens media) dalam membuat arti sebuah pesan media (perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat akibat suatu pesan media).

Dapat dilihat bahwa kemampuan literasi media sangat membutuhkan High Order Thinking Skill. Jika tidak berhati-hati, malah dapat membuat kita gagal paham dan menolak untuk memahami keterampilan literasi media karena sulit untuk dipahami. Tetapi jangan khawatir, berdasarkan berbagai riset dan pengkajian pengertian literasi media, Gerakan Literasi Media telah merumuskan serangkaian kemampuan literasi media yang sangat mudah dipahami oleh para guru. Serangkaian kemampuan ini sangat disesuaikan dengan karakter penggunaan media dan kebutuhan masyarakat Indonesia, antara lain adalah:

  1. Mengakses

Kemampuan mengakses yang dimaksudkan disini tidak hanya kemampuan membuka dan mengunci layar smartphone dan atau teknologi media digital lainnya. Melainkan juga termasuk menguasai cara mengoperasikan semua aplikasi yang ada di dalam smartphone sampai ke tingkat yang rumit seperti cara menyeting ulang statistik pesan whatsapp agar memory smartphone tidak penuh.

  1. Sadar tujuan

Tidak gagal fokus pada penggunaan smartphone dan media digital lainnya. Misalnya berniat membuka HP untuk membalas pesan Whastapp, tetapi malah membuka instagram hingga kehilangan banyak waku.

  1. Menganalisa

Langkah-langkah yang harus dilakukan saat menganalisa adalah membedah pesan, mengenal pola pesan, memahami arti pesan, membandingkan pesan dengan beberapa sumber yang pro dan kontra.

  1. Mengevaluasi

Melakukan evaluasi adalah menilai kelemahan dan kelebihan masing-masing sumber yang pro dan kontra dalam proses menganalisa.

  1. Mengelompokkan

Kelemahan dan kelebihan pesan-pesan yang pro dan yang kontra dikelompokkan persamaan dan perbedaanya.

  1. Mendeduksi informasi

Setelah dikelompokkan, gunakan berbagai pengetahuan atau teori untuk menjelaskan hasil pengelompokkan persamaan dan perbedaan informasi tersebut.

  1. Menginduksi informasi

Kemudian, gunakan pengalaman hidup selama ini untuk menjelaskan kelompok-kelompok persamaan dan perbedaan informasi. Bandingkan dengan kehidupan sehari-hari, mungkinkah terjadi pada diri kita?

  1. Mensintesiskan informasi

Setelah melakukan deduksi dan induksi, buat sebuah kesimpulan baru (sintesis).

  1. Mengabstraksikan informasi

Merangkai kesimpulan tersebut menjadi sebuah pesan media yang dikomunikasikan melalui media (apapun) dengan etika, baik dengan menyebutkan semua sumber pengetahuan, pendapat, atau teori yang membantu kita mendapatkan sebuah sintesis. Maupun dengan pemilihan bahasa yang sopan dan baik, serta tidak memaksakan pendapat.

  1. Tanggung jawab social

Sebelum mengkomunikasikan/menyebarkan hasil sintesis, kita wajib mempertimbangkan efek sosial yang akan muncul dengan disebarkannya informasi tersebut. Penyebaran tidak terkendali (tanpa batasan ruang dan waktu) sangat mungkin terjadi. Kemudian, pro dan kontra serta komentar-komentar netizen yang tidak terkendali juga harus diantisipasi dalam mengabstraksi pesan. Kesediaan menjawab pertanyaan mengenai pesan yang disebarkan, dan menerima saran serta kelapangan dada menerima kritik serta kemungkinan melakukan berbagai revisi dan diskusi, juga merupakan sebuah tanggung jawab social dalam menyebarkan pesan.

Rangkaian kemampuan literasi media ini sejalan dengan syarat yang diajukan oleh para pejuang literasi media di Indonesia: “Tidak hanya dalam pengertian kritis melihat pesan media, tapi secara aktif mampu mencari dan memilah pesan komunikasi untuk digunakan bagi kehidupannya”(Tim Peneliti PKMBM, 2013: 15). Juga memenuhi apa yang disyaratkan Centre for media literacy (2003) untuk literasi media Indonesia, yaitu sebagai pendidikan yang mengajari masyarakat (audiens)  media agar memiliki kemampuan menganalisis pesan media, memahami bahwa media memiliki tujuan komersial/bisnis dan politik sehingga mereka membantu bertanggungjawab dan memberikan respon yang benar ketika berhadapan dengan media (dalam Herlina, 2011).

Untuk bisa membimbing siswa agar bisa fokus kepada ahli dalam teknologi informasi, guru harus lebih dahulu menguasai kemampuan literasi media. Ditengah cepatnya kemunculan dan kemajuan teknologi yang masih akan terus terjadi, maka wajib bagi guru untuk memahami dan menguasai kemampuan #literasimedia. Semua keterampilan literasi media ini harus mampu diterapkan pada semua platform media, baik platform berita, games, ataupun berbagai tayangan video dan pesan instan seperti Whatsapp. Sehingga apapun teknologi yang akan muncul di masa depan dapat dihadapi dengan tepat, dan membuat GURU tidak akan ketinggalan canggih daripada siswa.

#ayomelek media #ayoliterat #menujumasyarakatmelekmediaindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *